JurnalNews – Kawasan kaki Gunung Tompotika di Kecamatan Bualemo, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah (Sulteng), menghadapi ancaman ekspansi pertambangan nikel. Jatam Sulteng mencatat sedikitnya 10 izin tambang nikel membebani kawasan tersebut hingga Juni 2026, termasuk tiga konsesi yang berada di wilayah Desa Sampaka. Koordinator Jatam Sulteng, Moh Taufik, mengatakan Desa Sampaka memiliki luas sekitar 77 kilometer persegi dan menjadi salah satu desa dengan wilayah terluas di Kecamatan Bualemo.
Menurut dia, keberadaan konsesi tambang berpotensi memberikan tekanan terhadap kawasan hutan Gunung Tompotika yang menjadi habitat flora dan fauna endemik Sulawesi. Aktivitas pertambangan juga dikhawatirkan mengganggu sumber air masyarakat.
“Konsesi tambang ini bukan hanya mengancam hutan yang menjadi rumah bagi flora dan fauna endemik Sulawesi di Gunung Tompotika, tapi juga berpotensi merusak sumber air,” ujar Taufik. Survei Jatam Sulteng bersama warga menemukan sedikitnya dua sumber air yang selama ini menopang kebutuhan masyarakat Sampaka, yakni Kuala 2 Athena dan Kuala Tanah Merah. Ancaman tersebut juga berkaitan dengan kondisi Desa Sampaka yang pernah mengalami banjir cukup parah pada 2017. Saat itu, sejumlah rumah warga dilaporkan hanyut terbawa arus.
“Desa Sampaka termasuk wilayah rawan bencana. Berkaca dari banjir yang pernah terjadi, aktivitas pertambangan nikel di wilayah hulu hanya memperburuk situasi,” tuturnya. Taufik menyebut salah satu perusahaan yang diduga memiliki konsesi di Desa Sampaka ialah PT Anugerah Bangun Makmur (ABM). Perusahaan tersebut mengantongi konsesi nikel seluas 4.335 hektare untuk periode 2017 hingga 2035.
Dalam dokumen akta perusahaan, Ferry Noviar Yosaputra tercatat sebagai direktur utama PT ABM. Nama Ferry juga tercatat dalam jajaran manajemen PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST), perusahaan pemegang waralaba KFC di Indonesia. Ia menjabat sebagai wakil direktur utama dan telah bergabung dengan FAST sejak 1995 serta masuk jajaran direksi pada 2001. Berdasarkan laporan resmi perseroan per Juni 2026, FAST mengoperasikan 682 gerai di 170 kabupaten/kota. Pada semester pertama 2026, perseroan mencatat pendapatan sekitar Rp2,79 triliun. Di luar FAST, Ferry juga tercatat sebagai komisaris PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET). Perusahaan tersebut menguasai 40 persen saham PT Indomarco Prismatama, pengendali operasional Indomaret.
Edisi, Rabu 9 September 2026
Sumber : https://www.jurnalnews.id/sulteng/43017613950/10-izin-tambang-nikel-ancam-sumber-air-di-kaki-gunung-tompotika-jejaring-pemodal-jadi-sorotan?fbclid=IwY2xjawUbQRtwZG9mBWV4dG4DYWVtAjExAHNydGMGYXBwX2lkEDIyMjAzOTE3ODgyMDA4OTIAAR6ARVmuQbSkfAPuqAygZrIaSP0kdZu6vtehLC6uADtxjrgwYC5eCwQjpyCHiQ_aem_vGD1HxKWmJPkF2llsLmQaA










Discussion about this post